Survey Identifikasi Lahan

K egiatan survey identifikasi lahan merupakan agenda kunjungan lapang yang dilakukan oleh petugas pertanian untuk mengidentifikasi lahan sec...

Survey Identifikasi Lahan

Kegiatan survey identifikasi lahan merupakan agenda kunjungan lapang yang dilakukan oleh petugas pertanian untuk mengidentifikasi lahan secara pengamatan langsung dengan melihat kondisi lahan, ketersediaan air irigasi teknis atau non teknis, geotagging, vegetasi lahan serta data-data lainnya sebagai pendukung.

Dalam rangka pengumpulan data potensi lahan pertanian dan peningkatan mutu hasil pertanian, pada hari Rabu 20 April 2022 kegiatan survey tersebut dilaksanakan oleh Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP), Staf Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan (TPHP) sebagai Tim Leader dan 2 orang Penyuluh Pertanian  Kota Kediri sebagai Tim Anggota  pada 7 titik lokasi yang telah ditentukan di Kecamatan Pesantren, hal ini juga merupakan tindaklanjut

Contoh Foto hasil Survey Identifikasi Lahan

dari kegiatan Survey Identifikasi Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Kegiatan Survey ini berlangsung selama 2 hari untuk persiapan dan pelaksanaan agenda. 

Penentuan Titik Lokasi Pengambilan Sampling
Foto Survey Identifikasi Lahan
Adapun hasil dari kegiatan ini adalah peta digitasi berupa beberapa file foto yang memuat data-data geotagging dan titik koordinat identifikasi lahan yang semuanya telah dikomulir dalam bentuk file digital .kmz (dot kmz) yang dapat dibaca menggunakan Google Earth Pro.
Mengingat updating pemetaan adalah data prioritas khususnya dalam pengelolaan pertanian di Kota Kediri ini, ke depan akan  menjadi kegiatan update/rutin yang dilaksanakan oleh petugas pertanian yang tentunya sangat diperlukan SDM, Sarana Prasarana yang memadai dan menjadi prioritas perhatian bagi pemangku kebijakan pertanian.
Mengingat pula akan urgenitas kegiatan ini sejalan dengan kebijakan satu data yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Pusat.

Daur ulang limbah minyak goreng menjadi bahan bakar Bio-diesel

Pendahuluan

Limbah minyak goreng nabati yang dibuang dari industri pengolahan makanan dan pedagang makanan serta rumah tangga di Jepang diperkirakan 400.000 ton per tahun. Limbah minyak goreng yang dikeluarkan dari industri pengolahan makanan dan pedagang makanan dikumpulkan oleh perusahaan pengumpul. Limbah yang terkumpul ini kemudian didaur ulang menjadi sabun, cat dan pakan hewan. Waktu itu limbah minyak goreng di rumah tangga dibuang sebagai sampah umum, akan tetapi akhir-akhir ini telah terdapat kesadaran masyarakat Jepang akan pentingnya perlindungan lingkungan hidup, makna daur ulang dan pemanfaatan kembali sumber bahan alam. Pada saat ini telah berkembang pergerakan masyarakat untuk mendaur ulang limbah minyak goreng yang berasal dari rumah tangga menjadi Bio-diesel Fuel (BDF) atau bahan bakar bio-diesel.

Sebagai salah satu usaha pencegahan pemanasan bumi, penggunaan bahan bakar berbasis biomass telah dicanangkan di beberapa tahun terakhir sebagai isu penting. Penyebaran teknologi penggunaan bahan bakar minyak nabati akan meningkat pada tahun-tahun belakangan ini dan telah menjadi kenyataan dan akhirnya banyak memverifikasi teknologi maju ini dan memperkenalkannya secara luas. Dan juga dikembangkan emisi zero pada limbah makanan, hal ini akan membantu penurunan emisi CO2 atau karbon dioksida dan penanggulangan pemanasan bumi. Sementara ini banyak rujukan tentang kajian biomass dan bahan bakar bio-ethanol, penelitian ilmiah sosial pada bahan bakar bio-diesel telah digalakan di Jepang. Disini dibahas daur ulang limbah minyak goreng dan penggunaan bahan bakar bio-diesel dalam bidang pertanian dalam arti luas.

Pengumpulan minyak goreng bekas dari industri makanan

Pembuangan limbah minyak goreng sebagian besar berasal dari minyak goreng nabati, total limbah tersebut di Jepang diperkirakan sebanyak 410.000 ton per tahun. Kurang lebih sebanyak 260.000 ton berasal dari para pengelola atau pedagang makanan seperti pabrik makanan, restoran dan pabrik tahu, sedangkan separuh lainnya 250.000 ton berasal dari limbah rumah tangga. Limbah minyak goreng berasal dari pedagang makanan dikumpulkan oleh pedagang pengumpul minyak goreng bekas. Sementara yang beasal dari rumah tangga dikumpulkan sebagian dengan alasan peningkatan kesadaran lingkungan hidup, akan tetapi kebanyakan dari limbah tersebut telah memadat dan dibuang dengan cara yang sama seperti sampah dapur lainnya.

Limbah minyak goreng sebanyak 260.000 ton yang dikumpulkan dari pedagang makanan di daur ulang untuk bahan dasar sabun, pupuk, pakan hewan dan cat. Pada tahun 2002 sebanyak 20.000 ton limbah minyak goreng digunakan untuk membuat bahan bakar bio-diesel dan boiler dan sebanyak 400.000 ton digunakan sebagai bahan baku untuk industri sabun, minyak dan cat, dan sekitar 200.000 ton untuk pakan hewan. Pada tahun yang sama sekitar 10.000 ton limbah minyak goreng dari rumah tangga didaur ulang untuk tujuan industri dan pembuatan bahan bakar.

Dari beberapa daerah telah terjadi peningkatan kesadaran bersama dalam pengumpulan dan pendaur-ulangan limbah minyak goreng ini sehingga pada tahun 2006 telah meningkat menjadi 20.000 – 30.000 ton. Maka dari itu kemungkinan limbah minyak goreng yang dapat dikumpulkan menjadi 100.000 ton per tahun. Minyak ini dapat didaur ulang dengan memisahkan minyak hewani dan bahan tambahan lainnya dengan cara memanaskannya di sebuah oven reaktor untuk mendehidrasinya dan menambahkan methanol (methyl alcohol), sebagai katalis. Lalu akan diperoleh methyl ester dan gliserin.

Kegiatan percontohan di Kyoto

Kota Tokyo tempat dimana dilahirkannya Kyoto Protocol pada tahun 1997, telah bekerja meminimalkan turunan sampah dan mendaur ulang limbah minyak goreng melalui kerjasama antara pemerintah setempat dengan masyarakatnya. Pada bulan November 1996 “Kyoto Minicipal Council for Promotion of Garbage Reduction” telah didirikan oleh penduduk, pedagang, dan pemerintah setempat. Dengan menggerakan penduduk yang berdedikasi di berbagai daerah, pemerintah setempat telah mengumpulkan 13.000 liter limbah ninyak goreng dari rumah tangga dalam waktu setahun dan juga setiap tahun telah membeli limbah minyak goreng yang berasal dari pabrik pengolah makanan, restoran dsb sekitar 1.400.000.000 liter dari pedagang pengumpul. Kemudian Kyoto setiap tahunnya memproduksi bahan bakar bio-diesel berasal dari 1,5 juta liter limbah minyak goreng yang dikerjakan di tempat produksi bio-diesel berlokasi di Fushimi-ku, Kyoto. Kyoto menggunakan bahan bakar bio-diesel (kemurnian 100%) sebagai bahan bakar untuk 220 truk sampah. Pada bulan April 2000, telah dimulai penggunaan bahan bakar campuran 20% bakar bio-diesel untuk bahan bakar sekitar 80 bus kota. Menurut Bidang Perencanaan Daur Ulang, Biro Lingkungan Hidup, Pemerintah Derah Kyoto, tidak ada prefektur lain yang menggunakan bahan bakar bio-diesel sebanyak 300 kendaraan, Kota Kyoto merupakan kota yang paling banyak menggunakan bahan bakar bio-diesel di Jepang.

Penggunaan bahan bakar bio-diesel di pertanian dan perikanan

Penggunaan bahan bakar bio-diesel untuk kapal penangkap ikan, traktor pertanian, belum dilaksanakan secara besar-besaran. Beberapa telah dilaksanakan, sebagai contoh penggunaan bahan bakar bio-diesel oleh kapal penangkap ikan lokal “Kakezu-Maru", jaringan penangkap ikan yang dipunyai oleh Mr. Yosuke Matsuo, seorang anggota Koperasi Nelayan Kota Amino, Kyotango, Prefektur Kyoyo. Sejak Mei 2006, Mr. Matsuo telah mencoba menggunakan bahan bakar yang berasal dari limbah minyak goreng untuk kapalnya. Untuk wilayah ini kegiatan pengumpulan limbah minyak goreng telah dimulai. Dia penggerak kampanye lingkungan hidup di wilayahnya sebagai presiden “Council for Protection of Nakisuna ((Quartz sand) on the Kotohikihama Beach” di Amino-machi. Hal penting yang perlu dicatat bahwa bahan bakar bio-diesel merupakan bahan bakar ramah lingkungan yang dapat membantu penurunan emisi karbon dioksida dan sulfur oksida. Maka dari itu Mr. Matsuo telah memutuskan untuk menggunakan bahan bakar tersebut untuk menggerakan mesin kapalnya. Kakezu-Maru biasa menempuh jarak antara Pelabuhan Ikan Asamogawa ke penempatan jaring ikan yang berjarak sekitar 1,5 km dari garis pantai. Dia juga dapat menggunakan bahan bakar bio-diesel sama seperti menggunakan bahan bakar umum sebelumnya.

Penggunaan bahan bakar bio-diesel untuk traktor pertanian dapat dilihat pada projek “Nanohana Eco-life Network” di Shin Aashi dan Aito, Prefektur Shiga dan juga di Yokohama, Prefektur Aomori, Kanayama, Prefektur Yamagata dan Kita, Prefektur Akita. Di daerah tersebut bahan bakar Bio-diesel diproduksi menggunakan minyak bijian dan limbah minyak goreng.

Promosi bahan bakar bio-diesel

Sangat perlu pulikasi penggunaan bio-diesel kepada masyarakat sebagai bahan pendidikan tentang makanan, bidang pertanian, dan masalah lingkungan hidup yang akan berguna untuk keselamatan manusia dan kelestarian sumber alam di bumi. Pengembangan metoda daur ulang dan sistem sosial lingkungan hidup yang berkelanjutan akan menyumbangkan penurunan emisi karbon dioksida dan pencegahan pemanasan bumi. Yang diperlukan pertama kali adalah menarik perhatian pemerintah pusat dan daerah, sekolah dan persatuan orang tua murid, masyarakat pertanian dan perikanan, koperasi konsumen dan penduduk dalam membangun sistem sosial untuk penggunaan limbah minyak goreng.

Praktek yang menarik dalam rangka penggunaan limbah minyak goreng :
1) Kegiatan yang dilakukan oleh NPO, pengumpul limbah minyak goreng di Sumida-ku, Tokyo dengan cara membuat kupon yang dapat ditukar dengan tanaman untuk ditanam di hutan Prefektur Fukushima. Metode ini dapat dipraktekan untuk mengumpulkan limbah minyak goreng untuk dijadikan bahan bakar bio-diesel yang digunakan pada kegiatan pertanian dan perikanan.
2) "Kupon sayur-sayuran atau beras" dan "Kupon ikan" yang diberikan kepada mereka yang menyetorkan limbah minyak goreng, dengan kupon yang terkumpul dapat ditukarkan dengan sayur-sayuran, beras dan ikan dari koperasi pertanian dan perikanan setempat.

Penggunaan limbah minyak goreng dalam bidang pertanian dan perikanan menghadapi masalah tingginya biaya pengumpulan dan pemurnian. Sehingga perlu dukungan politik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pejabat berwenang yang lain. Di Jepang tidak ada subsidi harga bahan bakar yang diberikan kepada petani dan nelayan. Kebijakan baru untuk memberikan subsidi pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan untuk biaya pengumpulan dan pemurnian limbah minyak diperlukan adanya peraturan pemerintah untuk penurunan emisi CO2 dan perlindungan lingkungan hidup secara global. Usaha bidang perikanan sangat membantu perokonomian regional sehingga pemerintah daerah sangat diharapkan membantu dan mendukung kegiatan-kegiatan pusat pemrosesan perikanan yang terdapat di wilayah prefekturnya.

(Sumber: Farming Japan hal 28-30, Vol 42-1, 2008)
Posted by Pudjiatmoko, PhD

Ujicoba Blogger Android

Hari ini kita berjumpa lagi sobat netter dengan saya, kali ini saya ujicoba untuk menggunakan blogger android. Semoga bisa mempermudah kita berbagi informasi dan bahkan ilmu...

Salam GoelaGoela

LARANGAN IMPORT : Buah dan Sayur diberlakukan !!!

Syukurlah pada akhirnya pemerintah menyadari, bahwa potensi buah-buahan dan sayuran produk lokal  sangat perlu mendapat perhatian lebih, seperti disadari bahwa standar dari mutu buah-buahan dan sayuran lokal masih kalah dibandingkan dengan buah-buahan dan sayuran import, baik dari mutu penampilan fisik, rasa, dan harga....jujur saja pemasaran terutama produk buah-buahan import tidak hanya di pasar swalayan saja, namun juga sudah menembus pasar lokal, bahkan sudah dijajakan dipinggir jalan.
Ini membuktikan produk import mampu bersaing dalam hal harga dan penampilan fisiknya.

Keengganan masyarakat dalam membeli produk buah-buahan dan sayuran lokal sekarang bukan hanya dikarenakan gengsi saja, namun juga mudahnya mendapatkan dan harganya yang juga relatif lebih murah. Seringnya promosi dari pasar swalayan yang mendiskon produk buah-buahan dan sayuran import menjadikan produk tersebut menjaring pembeli dari semua kalangan.

Salah satu jalan untuk menumbuhkan pasar produk buah-buahan dan sayuran lokal adalah ikut campur tangannya pemerintah dalam memberikan regulasi yang membatasi produk buah-buahan dan sayuran import yakni larangan import bagi produk buah dan sayur import, harapannya tentu dapat mendongkrak para petani dan produsen dalam mengembangkan produk buah-buahan dan sayuran lokal dipasar domestik.

Berikut ini adalah berita tentang "Larangan Import : Buah dan Sayur Diberlakukan" yang dilansir dari www.bisnis.com, silahkan para Sobat Netter Goela Goela untuk mencermatinya...

 
JAKARTA : Buah dan sayur impor yang bukan berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia mulai besok 19 Juni 2012 dilarang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

Pembatasan pintu masuk impor buah dan sayur berlaku mulai besok, kecuali yang berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia dilarang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok, karena ketiga negara telah diakui sistem keamanan pangan (food safety system) oleh Indonesia.

Sementara itu, impor hortikultura yang bukan berasal dari AS, Kanada, dan Australia hanya diperbolehkan masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), Belawan (Medan), Soekarno Hatta (Makasar), Bandara Seokarno-Hatta (Tangerang), dan Free Trade Zone  Batam, Bintan, dan Karimun.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini mengatakan kebijakan pembatasan pintu masuk impor hortikultura pada 19 Juni 2012.

Namun, bagi buah dan sayur yang berasal dari negara yang telah diakui sistem keamanan pangan oleh Kementerian Pertanian Indonesia atau country recognition agreement (CRA) akan tetap diperbolehkan masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

“AS, Kanada, dan Australia boleh lewat Pelabuhan Tanjung Priok, sedangkan Selandia Baru masih menunggu proses persetujuan recognition. Kebijakan pembatasan pintu masuk impor hortikultura tetap berlaku 19 Juni 2012,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini.

Permentan No. 15/2012 tentang Persyaratan Tekhnis Karantina Tumbuhan Pemasukan Buah dan Sayuran, Buah Segar, dan Umbi Lapis Segar Ke Indonesia, mengatur  pelabuhan dan bandara pemasukan buah dan sayuran.

Banun menjelaskan dengan terbitnya Permentan No. 42/2012 tentang Tindakan Karantina Tumbuhan Terhadap Pemasukan Buah dan Sayuran Segar ke Indonesia dan Permentan No. 43/2012 tentang Tindakan Karantina Tumbuhan terhadap Pemasukan Sayuran Umbi Lapis Segar ke Indonesia.

Melalui kedua peraturan itu,  maka bagi produk hortikultura yang berasal dari negara-negara yang telah diakui area bebas organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) atau sistem keamanan pangan oleh Kementan, maka diberikan pengecualian terhadap tempat pemasukan, sehingga diperbolehkan masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Kedua Permentan itu berlaku mulai 19 Juni 2012 (besok).

Negara-negara yang telah diakui sistem keamanan pangan seperti yang diatur dalam Permentan No. 88/2011 tentang Pengawasan Keamanan Pangan terhadap Pemasukan dan Pengeluaran PSAT, yaitu AS, Kanada, dan Australia.(api)

berita dilansir dari : www.bisnis.com

Kasus Ulat Bulu : "Ada Apa Dengan Ambang Batas Populasi Ulat Bulu...?"

Begini sobat Netter GoelaGoela…ngelanjutin crita yang kemarin ntuh, kali ini saya mau coba kasih tulisan tentang "Ambang Batas Populasi..." Ok, kita langsung ajah ke TKP...



“Disebut hama dan penyakit tanaman karena makluk hidup yang menyandang nama itu telah berpotensi nyata dalam mengganggu usaha manusia dalam pertanian.” (www.GoelaGoela.blogspot.com , 2011)
Grafik Ambang Batas Populasi HPT
Basic-nya dari jaman dahulu kala dan masa kini, yang namanya istilah “hama dan penyakit” tanaman itu sudah ada, artinya kenapa disebut hama dan penyakit karena makluk yang menyandang nama itu telah berpotensi nyata dalam mengganggu usaha manusia dalam pertanian. Namun “ledakan populasinya” masih dalam “ambang batas populasi”. Hal ini mungkin saja karena masih adanya daya dukung alam dalam menyeimbangkan populasi-populasi dari makluk hidup dengan mekanisme “rantai makanan”.

Ilustrasi dari Rantai Makanan
Hhh…what the hell is that?! (mengerut dahi saya….menginget mata kuliah HPT…dulu lupa sekarang…???)

Bagaimana sobat NetterGoelaGoela…dengan melihat kedua gambar diatas, apabila rantai makanan dalam kondisi "normal", maka yang namanya wereng coklat, ulat bulu, belalang, tikus, fungi, bakteri dan makluk hidup lainnya (mungkin termasuk manusia juga….hahaha…) dapat dikatakan sebagai hama dan penyakit bila sudah melewati “ambang batas populasi”. Bila masih dibawah ambang batas populasi… maka hanya dikatakan “berpotensi” bisa menyebabkan serangan...it’s ok, aman terkendali…

Ambang Batas Populasi sendiri ditentukan dengan beberapa pengujian, penelitian seksama pada data-data kasus serangan Hama Penyakit Tanaman (HPT)… macem uji beberapa sample data kasus dari serangan hama dan penyakit berbanding dengan total populasi tanaman dan hasil panen (secara sederhana mewakili aspek sosial ekonomi)… jadi hitungan ambang batas populasi sendiri tidak-lah sama pada masing-masing jenis komoditas pertanian. 

Ya ya… sederhana mikirnya bila populasi HPT (menyerang tanaman) lebih dari  10% dari total populasi tanaman, maka dapat dikatakan serangan HPT, logikanya total populasi tanaman akan berkurang 10%, dan hasil panen juga menyusut 10% pula, hitungan dagangnya dikatakan kerugian ekonomis. Maka kalo ndak salah denger “Ambang Batas Populasi” HPT ada yang bilang juga “Ambang Batas Ekonomi” (cmiw)

Lantas bagaimana “musibah” serangan ulat bulu yang meluas tidak hanya pada tanaman, tapi juga mengganggu aktifitas manusia? Nah ini dia masalahnya… mengapa hal ini luput dari pemantauan? Ok lah, “ledakan populasi ulat bulu” sendiri kemungkinan besar terjadi karena beberapa faktor :

  1. Faktor Alam : Perubahan cuaca yang ekstrim, sehingga populasi dari musuh/predator alami berkurang/mati/tidak bisa berkembang karena telur tidak menetas, daya tahan hidup musuh/predator alami berkurang akibat perubahan suhu yang ekstrim, kelembaban tinggi sehingga jamur berkembang baik.
  2. Faktor Manusia : penggunaan pestisida/fungisida dalam pengendalian HPT berbahan aktif kimiawi sehingga musuh/predator alami ikut mati, penggunaan pupuk nitrogen berlebih sehingga pertumbuhan tanaman menjadi subur namun disenangi sebagai sumber makanan oleh serangga, pemilihan tanaman yang seragam sehingga memicu serangan masal dan perilaku lainnya adalah, terlambat dalam adopsi teknologi pertanian khususnya pengendalian HPT terbaru.
And what’s the point?

Bila ber-hipotesa…maka dugaan terbesar saya adalah… terputusnya rantai makanan, bila musuh/predator alami ini berkurang populasinya atau bahkan musnah, maka akan terjadi “ledakan populasi” pada  tingkat rantai makanan dibawahnya…. Ya inilah yang sekarang terjadi, “ledakan populasi ulat bulu”.
 Si Ulat Bulu yang telah Melebihi Ambang Batas Populasinya
"Trus...bagaimana? Apa yang musti diperbuat?"


Ok, nantikan investigasi saya selanjutnya...soalnya si ulat bulu sudah dikabarkan menyerang Ibu Kota kita...Jakarta..."Ulat Bulu Menyerang Jakarta ?"...


Kasus Ulat Bulu : "Serangan Ulat Bulu, Sebuah Ledakan Populasi yang Fenomenal... "

"Tak hanya manusia, Ulat Bulu pun bisa menjadi berita utama…"

Briptu Norman Kamaru - Terkenal Mendadak
Kalo saat ini dari golongan manusia yang sedeng naik daun ya Briptu Norman Kamaru dengan Joget Indianya…tapi saya ndak mbahas masalah itu, selain bosen tiap hari diberitaken, juga mosok sobat Netter GoelaGoela ndak tahu bagaimana perkembangannya? 


Dan pastinya yang saya ceritaken saat ini ya si Ulat Bulu yang pertama diberitakan merajalaila  di Probolinggo dan beberapa wilayah di Jawa Timur (kabar terakhir sampai luar jawa juga...), hal ini  bikin sibuk para petinggi pemerintah dan dinas terkait dipropinsi tersebut karena serangan dibeberapa wilayahnya, khususnya daerah sentra penghasil mangga, patut mewaspadai “serangan ulat bulu”.

Pembasmian atau Pengendalian?
Entahlah apa yang sedang mereka (pemerintah) pikirkan selama ini? Maksud saya, apa tidak ada tim khusus, macem prakiraan cuaca dari Balai Meteorologi dan Geofisika, tapi yang ini tugasnya memantau klimatologi cuaca khusus untuk pertanian, sehingga dapat memperkirakan kemungkinan yang berpotensi terjadi… mulai penurunan hasil panen komoditas tertentu, misal padi, hortikultura dan tak terkecuali memperkirakan yang menjadi headline news pertanian yaitu “ledakan populasi ulat bulu”. 


Yahh anggep saja bencana (seperti lumpur Sidoarjo itu lho…”bencana”) yang paling mudah kita taruh saja alam yang bersalah, karena cuaca yang nggak menentu, cuaca yang ekstrim… dan seterusnya…

Kalo dihubungkan dengan kajian metafisika…katanya orang yang bilang, kalo si Ulat Bulu ini merupaken kiriman balak dari Tuhan atas perbuatan manusia yang semakin hari, semakin nambah saja do’a…eh dosanya (nah masuk akal metafisika juga nih…) Ini bukanlah suatu pertumbuhan ulat yang wajar dan pasti ada yang mengkoordinir supaya bersama-sama menetas,  bersama-sama tumbuh jadi ulat… dan menyerang tanaman bersama-sama pula...


“Kelak jika manusia berusaha untuk “membasminya” maka akan ada balak lebih besar lagi…(mungkin) artinya serangan ulat bulu yang lebih berbulu dan banyak jumlahnya…alias lebih gatal bila kena kulit…”

Ulat Bulu - Terkenal ?
Ok lah… bukan mencari apa atau siapa yang salah, tapi bagaimana kita ini “manusia” bisa lebih bertindak arif dan bijaksana…apa ya namanya…kearifan lokal mungkin?”  atau lebih ke-detailnya… keseimbangan alam, so why? Penjelasannya agak membosenkan mungkin bagi sobat Netter GoelaGoela semuanya… saya pun merasa demikian, seperti kembali lagi ke bangku kuliah, mengantuk saja rasanya, tapi perlu juga saya uraiken… 

bersambung ya... (yang nulis nguantuk berat....)

Mengapa Beras Organik Lebih Awet ?

"Bila berfikir untung terus, tentu akan ada yang di-korban-kan..."
Beras
Beberapa hari yang lalu... saya punya nyonya agak terkejut...  kenapa beras yang baru kami beli  dan masih dalam hitungan minggu dengan merk bungkus yang sama seperti sebelumnya, mutunya jelek... bagaimana tidak? baru pagi hari masuk Rice Cooker dan jadi nasi...disantap (masih belum gejala...) eh sorenya sudah apek bau-nya dan tengik rasa nasinya... Baaaah !!!
Dengan segala metode ritual sebelum menanak nasi, mulai dari merendam, mencuci bersih dengan air sampai lima kali ulangan (biasanya dua sampai tiga kali aja), nambah air untuk mematangkan... tetep saja bau apek, rasa tengik masih ada, ditambah teksturnya seperti bubur (karena kebanyakan air mungkin?)... ahhh... mau makan enak saja kok repot... Duh nasi lagi...

Akhirnya saya timbul pemikiran, ini mungkin mutu gabah atau berasnya...apa yang salah?

Gabah
Coba-coba beralih kami beli beras organik (ini pun termakan promo teman kantor, hehehe..) lho kok aneh, dengan cara penanganan ritual biasa sebelum menanak nasi... dan masuk Rice Cooker pada paginya... nasi disantap... sorenya... aman, no bau apek and no rasa tengik... plus teksturnya ngga lembek...    It's work !!! but... what's happen and why ya ??? Wah wah... 

Google !!! apa yang dia bisa jawab untuk pertanyaan saya ???
Teman kantor... mungkin ada promo beras organik murah ???
Teman owner warung... mungkin ada trik khusus supaya nasi ngga bau apek dan rasa tengik ???

Cukuplah info yang saya dapat... silahkan sobat Netter GoelaGoela langsung saja ke TKP untuk ngecek hasil investigasi saya dibawah ini...

Ternyata...
Beras Organik dalam Kemasan
Kandungan protein beras organik lebih rendah daripada beras non-organik, sebab dalam pemrosesan beras organik dilakukan “pemutihan” atau penyosohan secara bertingkat, sayangnya saya ngga tahu sampai berapa tingkatannya, proses inipun dapat dilakukan pada beras non-organik. Proses penyosohan inilah yang menghilangkan kulit ari beras yang kaya vitamin, mineral dan lemak termasuk anti oksidan orezanol yang dibutuhkan oleh tubuh.

Tren Pasarnya...
Pasar Los Beras
Beras dengan protein tinggi mempunyai tekstur lebih keras dan liat, dan beras dengan kadar protein rendah berasosiasi dengan rasa yang lebih enak.
  
"Tujuan dari proses penyosohan ini adalah membuang bahan-bahan yang sebetulnya berguna bagi kesehatan tubuh manusia, karena bahan-bahan inilah yang mudah teroksidasi menjadikan beras apek, tengik dan berubah warna." (Majalah Trubus No. 481 Desember 2009/XL)


Mesin Penggilingan Padi
Jadi proses penyosohan sendiri sebenarnya adalah memenuhi tren permintaan pasar, dengan menghilangkan beberapa bahan-bahan yang sebenarnya penting bagi kesehatan tubuh manusia, namun secara umum bahwa produk organik ini aman untuk dikonsumsi... 
Dengan demikian beras akan awet disimpan. 

Setuju dan ingin mencoba?
Saya jadi bisa merasakan walau lamat-lamat, bahwa masyarakat sebagai konsumen sudah banyak tuntutannya (mungkin termasuk saya juga), sampai beras pun ikut apa kata pasar... dan rupanya beberapa petani dan pengusaha penggilingan padi sudah mulai melihat peluang bisnis dengan mengikuti tren pasar ini. 
Mungkin karena biaya produksi untuk proses penyosohan bertingkat ini mahal bila dilakukan pada beras non-organik, tidak BEP dengan harga jual... makanya mereka mulai memilih grade produk... ada beda perlakuan antara beras non-organik, beras organik dan beras oplosan (0,5 Organik : 0,5 non-organik). 

Kualitas Beras
Seneng juga saya bisa tahu sendiri, bila mulai masyarakat, petani dan pengusaha yang bergerak di-sektor yang cukup strategis ini sudah mulai ber-"Agribisnis"... 

Tapi... yang mengganjal bagi saya juga, bahwa tren pasar tidak sepenuhnya baik... setidaknya dari segi kemanfaatan utama dari beras itu sendiri... selain enak dilidah kita, tapi juga bermanfaat maksimal bagi kesehatan... 

"Kenapa harus bahan-bahan pentingnya dihilangkan 
demi mengejar tren pasar semata ???
Adakah cara lain ???"

Ok... dapat jawaban awal satu masalah, tapi timbul satu masalah baru atas jawaban awal tadi... By the way, HDRAM saya sudah berat... enought for a moment... dari saya untuk sharing dengan sobat Netter GoelaGoela...

Tetaplah bersama kami, Kabar Online Goela Goela melaporkan untuk sobat Netter GoelaGoela dimanapun berada...





Sekilas Padi Organik

"Sebuah Keberhasilan akan dapat terwujud, apabila dapat Me-realita-kan
Sebuah Konsep dengan Usaha dan Do'a"  

...andai saja hari ini saya tidak pergi ke warung...
mungkin saja tulisan ini tidak segera ter-realisasi-kan...

Halo sobat Netter GoelaGoela dimanapun berada, saya hari ini ingin memberikan sedikit ilmu yang terjaring otak saya, gara-gara omongan kecil di warung kopi. 
Kadang saya atau mungkin sobat Netter GoelaGoela tidak terlalu peduli dengan beras yang kita makan tiap hari... "ya tahunya beras, jadi nasi titik!", padahal ini boleh dibilang menempuh jalan panjang... tapi sudahlah, nanti saya jadi bercerita... intinya, saya ingin berbagi info tentang "Padi Organik", "SRI" dan beberapa ulasan yang mungkin berguna untuk sobat Netter GoelaGoela semua.  
Silahken saja sobat Netter GoelaGoela menyimak yang dibawah ini... 


Definisi Padi Organik

Hasil pengolahan padi yang dibudidayakan secara organik dengan memperhatikan :
  1. Benih
  2. Lahan
  3. Air
  4. dan sarana prasarana organik non-kimiawi
  5. Filterisasi air dari sawah non-organik
Penekanan dari sistem pertanian organik adalah pada proses budidaya dan bukan hanya pada hasil akhirnya saja.

Produktivitas Padi Organik

Produktivitas Padi Organik
Produktivitas Padi Organik sangat luar biasa, terutama pada tahun ke-4, yakni sekitar kurang lebih 10 Ton/ Ha , jauh lebih tinggi hampir dua kali lipat bila dibandingkan dengan rata-rata produktivitas padi sawah di Indonesia yang hanya 5 Ton/ Ha.

Keuntungan dari kenaikan Produktivitas Sistem Pertanian Organik :
Akar Bibit Organik


  • Perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah 
  • Akar padi tumbuh lebih bagus, lurus, panjang kurang lebih 20 cm atau dua kali lebih panjang akar padi non-organik 
  • Dampak penyerapan unsur hara optimal 
  • Penerapan System of Rice Intensification (SRI) Organik 

Tanam Padi dengan SRI
”Kendala yang sangat umum terjadi pada penerapan SRI-Organik pada masyarakat petani di Indonesia adalah ”Mengubah kebiasaan dan budaya penggunaan pestisida kimiawi ke nabati”.












Dari Gabah ke Beras Organik

Gabah Organik
Pembelian dimulai sejak Gabah Kering Panen (GKP) dari petani, hal ini untuk mencegah pengoplosan padi organik dengan padi non-organik. Dari GKP diolah oleh produsen menjadi Gabah Kering Giling (GKG), dalam pengolahan ini berat gabah akan susut sekitar 20%. 

Tahap selanjutnya adalah pengolahan dari GKG menjadi beras organik dengan rendemen 30%. Perbandingannya untuk 1 kilogram beras organik, membutuhkan 3 kilogram Gabah Kering Giling (GKG).

Pasar
Pemain dalam pasar beras organik masih sedikit (2009) sedangkan permintaan domestic dan ekspor masih sangat tinggi. Secara nasional luas lahan yang digunakan untuk budidaya padi organik masih 5% dari total luas lahan 12,6 juta Ha atau sekitar 630.000 Ha. Harga beras organik dibandingkan dengan beras non-organik lebih tinggi Rp.1.000,- sampai Rp.2.000,-.

Beras Organik
Sedangkan biaya produksi beras organik dibandingkan dengan beras non-organik lebih rendah yaitu Rp. 1.400/kg untuk beras organik dan Rp. 1.700/kr untuk beras non-organik.
Produktivitas padi dengan sistem organik ini akan melonjak pada tahun ke – 4 seiring dengan perbaikan sifat unsur hara tanah


Nah bagaimana... sudah dikit tahukan perjalanan dari padi sampai jadi beras...??? tinggal beli aja tuh beras organik, trus dimasukin rice cooker, jadi nasi organik...
Paling tidak sobat Netter GoelaGoela semua pada tahu, ngga hanya makan saja...tapi juga perhatiin kesehatan, bukan promo juga sih, tapi kalo kita makan dari bahan yang awalnya baik, setidaknya tubuh kita akan jauh lebih sehat. 
Beras Organik ini mungkin salah satu solusinya, ya emang ga ngangkat diongkos juga,  harganya emang lebih mahal... dikit... tapi kesehatan... penting juga kan?


Ya wis... saya serahken semua dengen selera masing-masing saja, mau makan beras biasa atau organik yang penting dimasak dengan betul dan pastinya kita patut mendukung dengan perkembangan gerakan "Go Organic"...  dan semua yang berbau "Back To Nature". 

See You Soon...

Sumber : diolah dari berbagai sumber

Free Backlink GoelaGoela

Backlink ini berguna sekali bagi peningkatan Ratting Pengunjung Blog, pasanglah agar kita mudah mendapatkan banyak pengunjung sekaligus memperkenalkan blog kita pada dunia...
Backlink
Hitung-hitung saya nambah temen sesama blogger, kali ini saya menawarkan Free Backlink GoelaGoela untuk dipasang pada blog Netter GoelaGoela semua, makin banyak teman makin rame blog kita...

 




Silahkan copypaste code dibawah ini pada blog Netter GoelaGoela semua, ikuti langkah ini :


1. Login ke akun blog 
2. Selanjutnya ke Rancangan
3. Tambah Gadget HTML/JavaScript 
4. Copypastekan code dibawah ini :



5. Lalu Simpan dan selesai...

Kode diatas akan tampil dalam backlink Netter GoelaGoela seperti dibawah ini :

goelagoela

Ok...saya tunggu juga Kode Free Backlink Netter GoelaGoela semua...

Vertikultur - Cara Tanam Bertingkat - Pemanfaatan Lahan Pekarangan di Perkotaan

Kalau kita mau berusaha…tidak ada yang tidak mungkin !

Kalau kemarin Netter Goela Goela telah membaca dalam update saya yang bercerita tentang “Menanam Sayur Dengan Vertikultur” ala Bapak Kasino yang seorang pensiunan salah satu perusahaan telekomunikasi, maka untuk langkah aplikatif permulaan, berikut ini dapat saya sedikit tuliskan :

Sayuran dalam Sistem Vertikultur
Sebenarnya apa itu “Vertikultur”? 
Dalam bahasa aslinya yakni Bahasa Inggris, arti "verticulture" gabungan dari dua suku kata, vertical dan culture. Secara umum memberikan pengertian vertikultur adalah budidaya tanaman dengan cara bertingkat atau bersusun, memanfaatkan ruang ke arah atas. 
 
Tujuan dari sistem ini tentu saja menghemat ruang dengan kemudahan beberapa variasi tanaman.
Pengembangannya dapat dilakukan di lahan pekarangan rumah, dan tidak memerlukan tempat yang relatif luas. Sistem ini sangat cocok dikembangkan diwilayah perkotaan yang rata-rata penduduknya hanya memiliki luasan sisa lahan perumahan yang sempit. Asal syarat utama dari kehidupan tanaman adalah sinar matahari tercukupi, hal tersebut bukan menjadikan halangan untuk mencoba…satu hal lagi yang penting, sistem penanaman vertikultur ini sangat fleksibel penempatannya, selain mudah dan relatif murah (dibandingkan sistem tanam konvensional pada tanah) juga dianggap ramah lingkungan.


Model Rak Sederhana
Bahan yang dapat digunakan dengan sistem penanaman vertikultur ini pun sangat fleksibel, tergantung dari skala budidayanya, kali ini saya lebih berfokus pada pemanfaatan lahan perumahan di-perkotaan, maka bekas wadah makanan dari plastik, ataupun bekas kaleng cat pun dapat digunakan sebagai pot, dan rangka untuk rak-nya tidak perlu dari besi las, cukup memanfaatkan kayu dan bahan sisa bangunan yang masih baik dan kuat pun bisa, intinya sebelum membeli saya sarankan melihat sekeliling kita untuk dimanfaatkan yang akhirnya dapat menekan biaya. 

Namun untuk masalah estetika rangka dan pot dari bahan bekas ini saya serahkan pada masing-masing selera Netter Goela Goela sendiri bagaimana memolesnya menjadi seni tersendiri. 
 
Model Rangka Rak Sistem Vertikultur

Tentu saja tidak menutup kemungkinan bagi para hobiis tanaman untuk membuat sistem vertikultur ini lebih ber-estetik dan efiesien, dengan pembuatan rangka dari besi dan wadah media tanam lebih dari sekedar polyback…pot berukir mungkin ? dengan konsekuensi biaya yang lebih mahal….ini juga bagus !!!



Harapan saya, para Netter Goela Goela yang ingin mencoba sistem ini tidak berfikir “ini sistem mahal”…jangan !!! saya usahakan dalam update permulaan ini se-aplikatif mungkin, jadi intinya ada kemauan  untuk berusaha,  pasti bisa….OK!

Karena pada dasarnya sistem ini merupakan cara bertanam, maka cara yang diterapkan pun tidak berbeda jauh dengan penanaman konvensional (menanam horizontal) pada bidang tanah. Namun yang patut diperhatikan adalah segala sesuatu yang disesuaikan dengan sifat tanaman yang akan dibudidayakan, misalnya:

1. Pemilihan lokasi tanam,
    dalam hal ini memerlukan banyak sinar matahari atau sebaliknya, ini didukung
    dengan kemudahan dalam fleksibilitas pemilihan tempat dari sistem ini.

2. Komposisi media tanam,
     antara pasir, tanah, kerikil dan humus/pupuk kandang.

3. Perawatan tanaman,
     secara umum adalah penyiraman, pemupukan, penyulaman jika diperlukan. 

Nah karena ini ditanam secara vertikultur, maka intensitas kepadatan tanaman biasanya rapat, semisal satu meter persegi mungkin hanya bisa menampung 3 sampai dengan 5 tanaman dengan sistem vertikultur ini lahan seluas itu bisa menampung sampai lebih dari 15 tanaman. Oleh sebab itu serangan hama penyakit sangat rentan. Untuk tanaman sayuran dan buah, penanganan hama penyakit ini sangat dianjurkan tidak memakai jenis pestisida maupun fungisida kimia, tujuannya hanya satu “Go Organik”…dengan begitu akan dihasilkan nantinya tanaman yang sehat dan layak konsumsi.
Sayuran Semusim

Sistem vertikultur ini sudah terbukti sukses untuk budidaya tanaman semusim, berumur pendek, seperti sayuran. Saya sudah pernah mencoba dan sukses tumbuh dengan baik untuk sawi dan kangkung…tidak menutup kemungkinan sayuran lainnya macam selederi, sawi caisim, selada, dan bayam juga bisa tumbuh baik dengan sistem ini. Tanaman hias yang pernah saya coba dan sudah sangat berkembang banyak sampai saat ini adalah jenis rumput loreng, dan lidah mertua.

Omong-omong mertua…saya jadi teringat sistem vertikultur bergantung di plafon…(Lhooo apa hubungannya mertua dengan vertikultur bergantung...di plafon lagi....???)
Ya... ada pokoknya... hehehehe...
Ok lah…nanti saya sambung lagi, kebetulan saya nulis ini sudah larut malem sekali…InsyaAllah, dalam waktu yang tidak lama, nanti saya coba kasih hitungan buat sistem vertikultur secara lebih detail…semoga Alloh sentiasa memberi saya semangat untuk menulis… Trims semua Netter Goela Goela…Jangan lupa kunjungi blog saya… See You Soon!!!

Pertanian Masa Depan

Sayuran Organik
Halo Netter GoelaGoela jumpa lagi dengan saya, beberapa saat yang lalu saya telah membahas tentang Vertikultur, Hidroponik dan beberapa konsep tentang “Go Organic” terkait dengan itu lah yang menjadikan bahan konsep pemikiran saya, ditambah lagi beberapa kejadian yang saya alami sendiri, lho dulu-dulu juga tidak mikir masalah ini…Begini ceritanya…

Sayur dan Buah dalam Mall
Tempoh tak lama ini saya iseng jalan-jalan sama keluarga ke Mall, ada beberpa items yang kami lihat, tapi ada hal yang saya suka…ternyata sayuran organik sudah banyak sekali dijual dalam kemasan yang sudah representatif, pertumbuhan usaha sayuran organik sangat cepat dengan berkembangnya jenis sayuran yang dijual, tidak hanya sebatas sawi dan selada saja namun juga sudah ada sayur macam cabai organic, tomat organic. Jadi mungkin saja disini dapat dilihat bahwa konsep “Go Organic” sudah terlihat hasilnya.

Tapi lain Sayuran Organik lain pula kondisi agribisnis kita untuk komoditi buah, saya heran, kenapa buah terutama dari China dengan Jeruk Ponkam-nya, Jepang dengan Apel Fuji-nya dan Australia terdapat banyak dijual disini ? Ya di Mall besar sampai pedagang buah yang mangkal didepan gang... Mungkin banyak hal yang selama ini terlewatkan dari perhatian kita, Nah dulu-dulu saya juga tidak pernah mikir sejauh ini…kata guru SD kita, bangsa ini “Negeri yang sangat subur” tapi masak buah saja kita tidak dapat mencukupi kebutuhan sendiri ? Lantas kemana larinya buah lokal ?

Buah Apel Import

Dari beberapa kejadian yang saya alami diatas, rasanya saya perlu untuk sedikit “meluruskan” dalam artian secara informatif apa yang seharusnya bangsa ini dapat lakukan. Ya mungkin saya bisa cuma menulis, tapi besar harapan saya untuk membawa kemajuan dunia pertanian kita.

Buah Jeruk Import
Selain menjaring info yang saya anggap bisa dilakukan (aplikatif), saya juga menulis, apa yang telah saya coba, jadi nantinya tulisan dalam blog saya ini akan bersifat aplikatif, namun demikian kita juga jangan sampai ketinggalan informasi lainnya.
Informasi harus berimbang, janganlah kita selalu berfikir hanya untung apalagi secara material saja, tanpa berusaha untuk menggapainya…Omong kosong saja !!!
Kita perlu tindakan nyata, tapi tindakan tanpa konsep jelas, akan seperti mendayung ditengah samudra luas tanpa tahu arah...pasti sangat capek dan sia-sia.

Ok, ketemu lagi dengan update saya yang terbaru...untuk Pertanian Masa Depan.
Terimakasih atas kunjungan para Netter GoelaGoela dimanapun berada… See You Soon!

Cultuurstelsel (Tanam Paksa)

Graaf Johannes van den Bosch

Cultuurstelsel (harafiah: Sistem Kultivasi atau secara kurang tepat diterjemahkan sebagai Sistem Budaya) yang oleh sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa, adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1930 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.
Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda. Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.

Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada jaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia-Belanda pada 1835 hingga 1940.

Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini, Van den Bosch selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839.

Cultuurstelsel kemudian dihentikan setelah muncul berbagai kritik dengan dikeluarkannya UU Agraria 1870 dan UU Gula 1870, yang mengawali era liberalisasi ekonomi dalam sejarah penjajahan Indonesia.

Cultuurstelsel menandai dimulainya penanaman tanaman komoditi pendatang di Indonesia secara luas. Kopi dan teh, yang semula hanya ditanam untuk kepentingan keindahan taman mulai dikembangkan secara luas. Tebu, yang merupakan tanaman asli, menjadi populer pula setelah sebelumnya, pada masa VOC, perkebunan hanya berkisar pada tanaman "tradisional" penghasil rempah-rempah seperti lada, pala, dan cengkeh. Kepentingan peningkatan hasil dan kelaparan yang melanda Jawa akibat merosotnya produksi beras meningkatkan kesadaran pemerintah koloni akan perlunya penelitian untuk meningkatkan hasil komoditi pertanian, dan secara umum peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pertanian. Walaupun demikian, baru setelah pelaksanaan UU Agraria 1870 kegiatan penelitian pertanian dilakukan secara serius.