Survey Identifikasi Lahan

K egiatan survey identifikasi lahan merupakan agenda kunjungan lapang yang dilakukan oleh petugas pertanian untuk mengidentifikasi lahan sec...

Cultuurstelsel (Tanam Paksa)

Graaf Johannes van den Bosch

Cultuurstelsel (harafiah: Sistem Kultivasi atau secara kurang tepat diterjemahkan sebagai Sistem Budaya) yang oleh sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa, adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1930 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.
Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda. Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.

Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada jaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia-Belanda pada 1835 hingga 1940.

Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini, Van den Bosch selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839.

Cultuurstelsel kemudian dihentikan setelah muncul berbagai kritik dengan dikeluarkannya UU Agraria 1870 dan UU Gula 1870, yang mengawali era liberalisasi ekonomi dalam sejarah penjajahan Indonesia.

Cultuurstelsel menandai dimulainya penanaman tanaman komoditi pendatang di Indonesia secara luas. Kopi dan teh, yang semula hanya ditanam untuk kepentingan keindahan taman mulai dikembangkan secara luas. Tebu, yang merupakan tanaman asli, menjadi populer pula setelah sebelumnya, pada masa VOC, perkebunan hanya berkisar pada tanaman "tradisional" penghasil rempah-rempah seperti lada, pala, dan cengkeh. Kepentingan peningkatan hasil dan kelaparan yang melanda Jawa akibat merosotnya produksi beras meningkatkan kesadaran pemerintah koloni akan perlunya penelitian untuk meningkatkan hasil komoditi pertanian, dan secara umum peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pertanian. Walaupun demikian, baru setelah pelaksanaan UU Agraria 1870 kegiatan penelitian pertanian dilakukan secara serius.

Semakin Banyak Perusahaan Jepang Buka Bisnis Pertanian di Perkotaan

Pertanian masa depan
Para penduduk di daerah perkotaan Jepang, kini semakin banyak yang tertarik untuk mencoba bertani, terlebih setelah munculnya berbagai fasilitas pertanian yang didirikan oleh sejumlah perusahaan, bertempat di lahan kosong dekat stasiun kereta, maupun diatap gedung.

Salah satu perusahaan yang telah mengembangkan bisnis pertanian ini adalah Odakyu Electric Railway Co, perusahaan operator kereta api yang berkantor pusat di kota Shinjuku, Tokyo.
Tiga tahun silam, Odakyu mendirikan fasilitas pertanian "Agris Seijo" di samping salah satu stasiun kereta yang terletak di kota Setagaya. Fasilitas ini didirikan diatas lahan sebesar 5.000 meter persegi, yang dibagi menjadi 307 kapling, masing-masing berukuran enam meter persegi.

Selain lahan pertanian, Agris Seijo juga menawarkan berbagai fasilitas lain bagi para anggotanya, antara lain kamar mandi, ruang duduk, dan ruang rekreasi yang dilengkapi dengan sejumlah anak pohon, pupuk, serta alat-alat pertanian.

Fasilitas ini juga dilengkapi dengan staf yang siap membantu para anggota untuk memelihara lahan pertanian mereka.

Juru bicara Odakyu menjelaskan, sejak pendiriannya, fasilitas ini sudah memiliki sekitar 170 orang anggota, yang masing-masing membayar biaya bulanan sebesar 12.000 yen.

Selain Odakyu, Nankai Electric Railway Co juga telah mendirikan lahan pertanian untuk umum, bertempat diatap salah satu gedung dalam kompleks perbelanjaan Namba Parks di kota Naniwa, Prefektur Osaka.

Sementara itu, pada September 2009, di kota Omotesando, Tokyo, juga telah dibuka fasilitas pertanian bernama Ginza Farm Inc, diatap sebuah gedung bertingkat tiga.

Fasilitas yang memliki luas tanah sebesar 100 meter persegi ini, buka 24 jam setiap harinya, dan dilengkapi dengan alat pertanian, sehingga para angggota tidak perlu membawa peralatan sendiri.

Yoshida Yumi, salah satu anggota Ginza Farm yang mengurusi lahannya setiap pagi sebelum masuk kantor mengatakan, "Bagi saya, kesempatan untuk dapat menumbuhkan sendiri makanan yang kita makan, membawa kepuasan tersendiri."

Juru bicara Odakyu menambahkan, dengan membuka fasilitas pertanian seperti ini, perusahaan-perusahaan di perkotaan tidak hanya memperoleh tambahan penghasilan dari biaya para anggotanya, namun juga dapat memperbaiki reputasi perusahaan, khususnya dalam hal kepedulian terhadap lingkungan. (YA/KN)

Dana Bantuan Langsung Pupuk Organik 2011 Berkurang

Pupuk Organik
Kementerian Pertanian mengurangi dana untuk program Bantuan Langsung Pupuk Organik. Forum Peduli Petani Indonesia meminta agar dana bantuan langsung pupuk organik tersebut dapat dinaikkan kembali, agar gerakan go organik yang dikembangkan Kementerian Pertanian bisa dicapai.

Ketua Forum Peduli Petani Tarso Nugroho menyesalkan rencana pemerintah memangkas dana bantuan langsung pupuk organik. “Pada tahun 2011, pemberian Bantuan Langsung pupuk organik akan dipangkas hingga 70%, tinggal menjadi sekitar Rp. 408 miliar, padahal Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian telah mencanangkan GO ORGANIK pada tahun 2010, hal ini sangat jelas menunjukkan pemerintah melakukan inkonsistensi,” katanya.

Sebelumnya, pemerintah melalui program Bantuan Langsung Pupuk (BLP) organik pada tahun 2008 menganggarkan dana sebesar Rp. 826.82 miliar untuk areal lahan seluas 403.514 ha. Bantuan itu pada tahun 2009, naik menjadi sebesar Rp. 961,82 miliar untuk lahan seluas 648,386 ha atau meningkat 60,68%. Dan pada tahun 2010, dana BLP organik dinaikkan menjadi sebesar Rp. 1,6 triliun untuk lahan seluas 1,066,395 ha, atau meningkat 64,47%.

Dengan dana sebesar itu lanjut Tarso belum banyak petani yang menikmati bantuan langsung pupuk organik, apalagi kalau dananya dikurangi. Selain itu, menurut Tarso dengan adanya pengurangan dana tersebut maka produsen pupuk organik skala kecil dan menengah akan banyak yang tutup.

Berdasarkan hasil penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2010 ungkap Tarso banyak manfaat yang diperoleh dari penggunaan pupuk organik, di antaranya: pupuk organik mampu meningkatkan produktivitas petani 17,56%; Meningkatkan produksi 2-3 ton/ha; Meningkatkan kadar bahan organik 0,63% pada tanah tegalan, dan 1,70 persen pada tanah sawah, sehingga mendorong tumbuhnya mikroba tanah yang lebih besar; Meningkatkan kadar N, P, K pada tanah berturut-turut 0,01%, 1,79 ppm, 11,11 ppm sehingga setara dengan pemberian pupuk urea 444 kg, 9,94 kg, KCl 37 kg atau setara dengan harga sebesar Rp. 985.000,00/ha.

Sukamto Hadi Suwito - Mencipta Pengolah Sampah untuk Rumah Tangga

Tumpukan sampah di perkotaan
Sukamto H Suwito sudah 40 tahun berkecimpung mendidik pemuda desa untuk mau terjun di bidang petanian. Di antara pemuda yang dilatih pertanian itu ada yang dikirim ke Jepang. ”Hasilnya mereka mengerti dan menguasai teknologi pertanian dan teknologi pupuk organik,” tururnya kepada Sinar Tani.

Dengan keahlian itu, Sukamto tidak pernah komplain dengan naiknya harga atau kelangkaan pupuk an organik. “Karena kita sudah bisa membuat pupuk organik sendiri,” tambahnya. Karena ketekunannya dalam mengembangkan pupuk organik, kini ia dikenal sebagai pelopor pupuk organik cair di DKI Jakarta.


Tabung Komposter oleh Bapak Sukamto
Sampah telah menjadi masalah perkotaan. Di Jakarta saja, terkumpul sampah sebanyak 6 ribu ton per hari. Dengan keahliannya sekaligus hobinya itu, Sukamto mengembangkan alat pengolah pupuk organik tingkat rumah tangga. Alat itu ia namakan Komposter Propuri singkatan dari produksi pupuk sendiri.

Alat tersebut cukup ringan dan tidak memerlukan tempat untuk penyimpanan. Harganya pun murah, hanya Rp 250 ribu/ unit.. Dengan alat ini, Sukamto yakin tiap rumah tangga bisa mengolah sampah rumah tangganya menjadi pupuk organik. Alat yang dibuat Sukamto itu ada beberapa jenis kapasitasnya, 20 liter, 30 liter, 60 liter, 80 liter, 100 liter, 120 liter, 150 liter, dan 200 liter.

Kepedulian Sukamto pada penanganan sampah lalu diolahnya menjadi pupuk organik cair ini mengantarkannya mendapatkan penghargaan Kalpataru, sebuah penghargaan bagi mereka yang peduli pada lingkungan hidup.

Dok. Trubus No. 481 Desember 2009/XL


Bentuk Akhir Komposer Propuri
Sukamto menjelaskan tidak sulit menggunakan alat yang diproduksinya. Pertama, pisahkan sampah non organik dan organik. Jenis-jenis sampah non organik yakni: plastik, kaleng, beling/kaca, logam/besi, puing, pampers/softex, karet, dll. Jenis-jenis sampah organik (bakal kompos): sisa makanan, sisa sayuran, sampah buah, daun tanaman, kulit udang, sisa ikan, sisa sayuran, sisa nasi, dll.

Vacum Frying Cara Mudah Buat Keripik Buah dan Sayur

Beragam buah seperti tomat, melon, labu, terong, buncis, kacang panjang, mentimun, jamur tiram, mangga, pepaya, nangka, cabai, apel, wortel, salak dan lainnya bisadibuat menjadi kripik yang renyah dengan rasa yang tidak berbeda dengan menggunakan alat ini. Bila berhasil mengembangkan pasarnya, alat ini bisa menjadi sumber pendapatan baru.

Dengan mesin ini, Anda bisa menjadi produsen keripik nangka, keripik nanas, keripik waluh, keripik apel, keripik mangga, keripik jamur, keripik salak, keripik apel, kripik melon, kripik pepaya, dan lainnya.

Keripik hasil vacum frying
Yuli Umi Zulaika, Asisten Direktur dari toko mesin pertanian Maksindo Agrowindo mengatakan: “Mesin vacuum frying atau mesin penggoreng hampa (vakum) adalah mesin untuk membuat aneka keripik buah dan sayur (fruits and vegetable chips) dengan sistem vakum. Mesin pengolah buah menjadi keripik ini adalah tergolong teknologi tepat guna yang baru ada di Indonesia,” terangnya saat ditemui Sinar Tani di kantornya Ciputra Bizpark Pulo Gadung.
Dengan mesin pengering buah (vakum frying) ini kita bisa membuat keripik mangga, keripik melon, keripik nanas, keripik nangka, keripik pepaya, keripik salak, jamur tiram dan lain-lain,” ujar Yuli.

Cara Kerja Mesin Vacuum Frying
Cara kerja mesin vacuum frying (pengering buah) sebagai berikut;
  1. Buah maupun sayuran digoreng pada mesin vacuum fryer, dengan medium minyak goreng.
  2. Pemanasanminyak goreng disetting pada suhu rendah (80-85 derajat celcius).
  3. Pemanasan ini menggunakan bahan bakar LPG.Untuk mempercepat penggorengan, maka dilakukan penyedotan kandungan air pada buah dengan cara pemvakuman.
  4. Pemvakuman ini menggunakan pompa khusus, dengan tenaga listrik.

Teknik Budidaya Sayuran secara Hidroponik

inovasi28_04
Hidroponik
Istilah hidroponik berasal dari istilah Yunani yaitu hidro yang berarti air dan ponos berarti kerja. Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan cara bercocok tanam tanpa tanah tetapi menggunakan air atau bahan porous lainnya dengan pemberian unsur hara terkendali yang berisi unsur-unsur esensial yang dibutuhkan tanaman. Dilontarkan pertama kali oleh W.A. Setchell dari University of California, sehubungan dengan keberhasilan W.F. Gericke dari university yang sama, dalam pengembangan teknik bercocok tanam dengan air sebagai medium tanam.


Berdasarkan media tumbuh yang digunakan, hidroponik dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

Kultur Air
Teknik ini telah lama dikenal, yaitu sejak pertengahan abad ke-15 oleh bangsa Aztec. Dalam metode ini tanaman ditumbuhkan pada media tertentu yang di bagian dasar terdapat larutan yang mengandung hara makro dan mikro, sehingga ujung akar tanaman akan menyentuh larutan yang mengandung nutrisi tersebut.
Kultur Agregat
Media tanam berupa kerikil, pasir, arang sekam padi (kuntan), dan lain-lain yang harus disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Pemberian hara dengan cara mengairi media tanam atau dengan cara menyiapkan larutan hara dalam tangki atau drum, lalu dialirkan ke tanaman melalui selang plastik.
Nutrient Film Technique
Pada cara ini tanaman dipelihara dalam selokan panjang yang sempit, terbuat dari lempengan logam tipis tahan karat. Di dalam saluran tersebut dialiri air yang mengandung larutan hara. Maka di sekitar akar akan terbentuk film (lapisan tipis) sebagai makanan tanaman tersebut.
Faktor-faktor Penting dalam Budidaya Hidroponik

Unsur Hara
Pemberian larutan hara yang teratur sangatlah penting pada hidroponik, karena media hanya berfungsi sebagai penopang tanaman dan sarana meneruskan larutan atau air yang berlebihan.
Hara tersedia bagi tanaman pada pH 5.5 – 7.5 tetapi yang terbaik adalah 6.5, karena pada kondisi ini unsur hara dalam keadaan tersedia bagi tanaman. Unsur hara makro dibutuhkan dalam jumlah besar dan konsentrasinya dalam larutan relatif tinggi. Termasuk unsur hara makro adalah N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur hara mikro hanya diperlukan dalam konsentrasi yang rendah, yang meliputi unsur Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl. Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda-beda menurut tingkat pertumbuhannya dan jenis tanaman (Jones, 1991).
Larutan hara dibuat dengan cara melarutkan garam-garam pupuk dalam air. Berbagai garam jenis pupuk dapat digunakan untuk larutan hara, pemilihannya biasanya atas harga dan kelarutan garam pupuk tersebut.
Media Tanam Hidroponik
Jenis media tanam yang digunakan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Media yang baik membuat unsur hara tetap tersedia, kelembaban terjamin dan drainase baik. Media yang digunakan harus dapat menyediakan air, zat hara dan oksigen serta tidak mengandung zat yang beracun bagi tanaman.
Bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai media tanam dalam hidroponik antara lain pasir, kerikil, pecahan batu bata, arang sekam, spons, dan sebagainya. Bahan yang digunakan sebagai media tumbuh akan mempengaruhi sifat lingkungan media. Tingkat suhu, aerasi dan kelembaban media akan berlainan antara media yang satu dengan media yang lain, sesuai dengan bahan yang digunakan sebagai media.
Arang sekam (kuntan) adalah sekam bakar yang berwarna hitam yang dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna, dan telah banyak digunakan sabagai media tanam secara komersial pada sistem hidroponik.
Komposisi arang sekam paling banyak ditempati oleh SiO2 yaitu 52% dan C sebanyak 31%. Komponen lainnya adalah Fe2O3, K2O, MgO, CaO, MnO, dan Cu dalam jumlah relatif kecil serta bahan organik. Karakteristik lain adalah sangat ringan, kasar sehingga sirkulasi udara tinggi karena banyak pori, kapasitas menahan air yang tinggi, warnanya yang hitam dapat mengabsorbsi sinar matahari secara efektif, pH tinggi (8.5 – 9.0), serta dapat menghilangkan pengaruh penyakit khususnya bakteri dan gulma.

Oksigen
Keberadaan Oksigen dalam sistem hidroponik sangat penting. Rendahnya oksigen menyebabkan permeabilitas membran sel menurun, sehingga dinding sel makin sukar untuk ditembus, Akibatnya tanaman akan kekurangan air. Hal ini dapat menjelaskan mengapa tanaman akan layu pada kondisi tanah yang tergenang.
Tingkat oksigen di dalam pori-pori media mempengaruhi perkembangan rambut akar. Pemberian oksigen ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: memberikan gelembung-gelembung udara pada larutan (kultur air), penggantian larutan hara yang berulang-ulang, mencuci atau mengabuti akar yang terekspose dalam larutan hara dan memberikan lubang ventilasi pada tempat penanaman untuk kultur agregat.

Air
Kualitas air yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman secara hidroponik mempunyai tingkat salinitas yang tidak melebihi 2500 ppm, atau mempunyai nilai EC tidak lebih dari 6,0 mmhos/cm serta tidak mengandung logam-logam berat dalam jumlah besar karena dapat meracuni tanaman.
Keuntungan dan Kendala Hidroponik
Beberapa kelebihan bertanam secara hidroponik adalah produksi tanaman persatuan luas lebih banyak, tanaman tumbuh lebih cepat, pemakaian pupuk lebih hemat, pemakaian air lebih efisien, tenaga kerja yng diperlukan lebih sedikit, lingkungan kerja lebih bersih, kontrol air, hara dan pH lebih teliti, masalah hama dan penyakit tanaman dapat dikurangi serta dapat menanam tanaman di lokasi yang tidak mungkin/sulit ditanami seperti di lingkungan tanah yang miskin hara dan berbatu atau di garasi (dalam ruangan lain) dengan tambahan lampu. Sedangkan kelemahannya adalah ketersediaan dan pemeliharaan perangkat hidroponik agak sulit, memerlukan keterampilan khusus untuk menimbang dan meramu bahan kimia serta investasi awal yang mahal. 

TEKNIK BUDIDAYA
 
A. Media
Media hidroponik yang baik memiliki pH yang netral atau antara 5.5 -6.5. Selain itu media harus porous dan dapat mempertahankan kelembaban. Media yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan tahap pertumbuhan tanaman :
Media untuk persemaian atau pembibitan
Untuk persemaian dapat digunkan media berupa pasir halus, arang sekam atau rockwool. Pasir halus sering digunakan karena mudah diperoleh dan harganya murah, namun kurang dapat menahan air dan tidak terdapat nutrisi di dalamnya. Media yang biasa digunakan adalah campuran arang sekam dan serbuk gergaji atau serbuk sabut kelapa.
Media untuk tanaman dewasa
Media untuk tanaman dewasa hampir sama dengan media semai, yaitu pasir agak kasar, arang sekam, rockwool dan lain-lain. Media yang ideal adalah arang sekam. Keuntungannya adalah kebersihan dan sterilitas media lebih terjamin bebas dari kotoran maupun organisme yang dapat mengganggu seperti cacing, kutu dan sebagainya yang dapt hidup dalam pasir. Media arang sekam bersifat lebih ringan namun lebih mudah hancur, penggunaannya hanya dapat untuk dua kali pemakaian. Arang sekam dapat dibeli di toko-toko pertanian atau membuat sendiri.

B. Benih
Pemilihan benih sangat penting karena produktivitas tanaman teranganutng dari keunggulan benih yang dipilih. Periksa label kemasan benih, yaitu tanggal kadaluarsa, persentase tumbuh dan kemurnian benih. Pemilihan komoditas yang akan ditanam diperhitungkan masak-masak mengenai harga dan pemasarannya. Contoh sayuran eksklusif yang mempunyai nilai jual di atas rat-rata adalah tomat Recento, ketimun Jepang, Melon, parika, selada, kailan, melon dan lain-lain.

C. Peralatan Budidaya Hidroponik
Peralatan yang diperlukan adalah :
1. Wadah semai, bisa menggunakan pot plastik, polybag kecil, bak plastik, nampan semai, atau kotak kayu.
2. Wadah tanaman dewasa, umumnya digunakan polybag berukuran 30-40 cm dengan lobang secukupnya
     untuk mengalirkan kelebihan air saat penyiraman.
     - Kertas tissu/koran basah untuk menjaga kelembaban
     - Ayakan pasir untuk mengayak media semai
     - Handsprayer untuk penyiraman
     - Centong pengaduk media
     - Pinset untuk mengambil bibit dari wadah semai
     - Polybag ukuran 5 kg untuk penanaman transplant
     - Benang rami (seperti yang sering digunakan tukang bangunan) untuk mengikat tanaman
     - Ember penyiram

D. Pelaksanaan
Persiapan media semai :
Sebelum melakukan persemaian, sempuran media semai diaduk dahulu secara merata.
 1. Persemaian tanaman
     Persemaian benih besar
    Untuk benih yang berukuran besar seperti benih melon dan ketimun, sebaiknya dilakukan perendaman di dala air hangat kuku selama 2-3 jam dan langsung ditanamkan dalam wadah semai yang berisi media dan telah disiram dengan air. Benih diletakkan dengan pinset secara horisontal 4-5 mm dibawah permukaan media.
    Transplanting bibit dari wadah semai ke wadah yang lebih besar dapat dilakukan ketika tinggi bibit sekitar 12-15 cm (28-30 hari setelah semai).

2. Persemaian benih kecil
   Untuk benih berukuran kecil seperti tomat, cabai, terong dan sebagainya cara persemaiannya berbeda dengan benih besar. Pertama siapkan wadah semai dengan media setebal 5-7 cm. Di tempat terpisah tuangkan benih yang dicampurkan dengan pasir kering steril secukupnya dan diaduk merata. Benih yang telah tercampur dengan pasir ditebarkan di atas permukaan media semai secara merata, kemudian ditutup dengan media semai tipis-tipis (3-5 mm). Setelah itu permukaan wadah semai ditutup dengan kertas tisu yang telah dibasahi dengan handsprayer kemudian simpan di tempat gelap dan aman.Wadah semai sebaiknya dikenakan sinar matahari tip pagi selama 1-2 jam agar perkecambahan tumbuh dengan baik dan sehat. Setelah benih mulai berkecambah, kertas tisu dibuang.
Setelah bibit mencapai tinggi 2-3 cm dipindahkan ke dalam pot/polybag pembibitan.

3. Perlakuan semai
Bibit kecil yang telah berkecambah di dalam wadah semai perlu disirami dengan air biasa. Penyiraman jangan berlebih, karena dapat menyebabkan serangan penyakit busuk.

4. Pembibitan
Setelah bibit berumur 15-17 hari (bibit yang berasal dari benih kecil) perlu dipindahkan dari wadah semai ke pot/polybag pembibitan agar dapat tumbuh dengan baik. Caranya adalah dengan mencabut kecambah di wadah semai (umur 3-4 minggu setelah semai) secara hati-hati dengan tangan agar akar tidak rusak kemudian tanam pada lubang tanam yang telah dibuat pada pot/polybag pembibitan.
5. Transplanting/pindah tanam
Sebelum dilakukan pindah tanam, perlu dilakukan persiapan media tanam, yaitu dengan mengisikan media tanam ke polybag. Sebaiknya pengisian dilakukan di dekat lokasi penanaman di dalam green house agar sterilitas media tetap terjaga.
Setelah wadah tanam siap dan dibuatkan lubang tanam, maka transplanting siap dilakukan. Transplanting dilakukan dengan membalikkan pot pembibitan secara perlahan-lahan dan menahan permukaannya dengan jemari tangan (bibit dijepit diantara jari telunjuk dan jari tengah). Jika pada pembibitan digunakan polybag, maka cara transplanting bisa dilakukan dengan memotong/menggunting dasar polybag secara horisontal.

6. Penyiraman
Penyiraman dilakukan secara kontinu, dengan indikator apabila media tumbuh dipegang dengan tangan terasa kering. Meida tanam hidroponik bersifat kering sehingga penyiraman tanaman jangan sampai terlambat. Jenis dan cara penyiraman adalah sebagai berikut:
Penyiraman manual
Penyiraman dilakukan dengan handsprayer, gembor/emprat atau gayung. Cara penyiramannya adalah sebagai berikut :

7. Pada masa persemaian
Cara penyiraman untuk benih berukuran kecil cukup dengan handsprayer 4-5 kali sehari untuk menjaga kelembaban media. Untuk benih berukuran besar digunakan gembor/emprat berlubang halus atau tree sprayer.

8. Pada masa pembibitan
Penyiraman dilakukan dengan gembor dilakukan sebanyak 5-6 kali sehari dan ditambahkan larutan encer hara.
Pada masa pertumbuhan dan produksi
Penyiraman dilakukan dengan memeberikan 1.5-2.5 l larutan encer hara setiap harinya.
Penyiraman otomatis
Penyiraman dapat dilakukan dengan Sprinkle Irrigation System dan Drip Irrigation System, yaitu sistem penyiraman semprot dan tetes . Sumber tenaga berasal dari pompa.
Perawatan Tanaman. Perawatan tanaman yang perlu dilakukan antara lain adalah :
Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan untuk membuang cabang yang tidak dikehendaki, tunas air, atau cabang yang terkena serangan penyakit. Pemangkasan dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Misal pada tomat recento hanya dipelihara satu batang utama untuk produksi.
Pengikatan
Tanaman yang telah berada di wadah tanam selama 7 hari memerlukan penopang agar dapat berdiri tegak sehingga tanaman dapat tumbuh rapi dan teratur. Penopang tersebut diberikan dengan cara mengikat tanaman dengan tali (benang rami).
Penjarangan bunga (pada sayuran buah)
Penjarangan bunga perlu dilakukan agar pertumbuhan buah sama besar. Namun hasil penelitian penjarangan bunga pada ketimun Gherkin tidak menunjukkan hasil yang berbeda dengan perlakuan tanpa penjarangan bunga.
Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian dapat dilakukan baik secara manual maupun dengan pestisida.
Panen dan Pasca panen
Pemanenan
Dalam pemanenan perlu diperhatikan cara pengambilan buah/ hasil panen agar diperoleh mutu yang baik, misalnya dengan menggunakan alat bantu pisau atau gunting panen. Cara panen yang benar dan hati-hati akan mencegah kerusakan tanaman yang dapat mengganggu produksi berikutnya.
Kriteria panen masing-masing jenis sayuran berlainan satu sama lainnya dan tergantung dari pasar. Makin besar buah belum tentu makin mahal/laku, malah termasuk kriteria buah afkir sehingga waktu panen yang tepat dan pengawasan pada proses produksi perlu diperhatikan.
Penanganan pasca panen
Pemasaran produk hasil budidaya hidroponik sangat dipengaruhi oleh perlakuan pasca panen. Standar harga penjualan produksi tergantung dari menarik atau tidaknya produk yang dihasilkan, terutama dilihat dari penampilan produk (bentuk, warna, dan ukuran). Perlakuan pasca panen sangat penting karena kualitas produk tidak semata-mata dari hasil produksi saja, melainkan sangat tegantung dan ditentukan oleh penanganan pasca panen, kemasan, sistem penyusunan, metode pengangkutam maupun selektivitas produk. Kerusakan produk dapat dikurangai dengan penanganan pasca panen yang tepat sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah pada produk yang dijual.

Sumber : www.ayobertani.wordpress.com

Jenis-jenis Melati Hias

Ada 8 jenis tanaman melati lain yang potensial dijadikan tanaman hias dan sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari, antara lain:
* melati air
* melati raja
* melati gambir
* melati bintang
* melati jepang
* melati hibrida
* melati putih
 Dengan begitu banyaknya manfaat dari tanaman melati ini, tampaknya ada baiknya bila Anda mempunyai satu saja jenis melati di pekarangan rumah. Melati cocok ditanam di dalam pot ataupun langsung di atas tanah sebagai bagian dari rancangan taman rumah.
Selain berfungsi sebagai mempercantik taman dengan bunganya yang putih dan tajuknya yang padat dan rimbun, melati juga mempunyai nilai fungsional yang tinggi, sehingga Anda dapat memanfaaatkan beberapa bagian dari tanaman klasik ini.

Fakta Lain Melati Hutan
Nama Latin : Schiima wallichi
Nama Lokal : Melai hutan, puspa, muhe, huru manuk
Famili : Theaceae
Karakter : -Bunga kecil berwarna putih
-Batang berkayu
-Daun berwarna hijau berbentuk oval
-Pertumbuhan tegak menjalar
Tinggi : Mampu mencpai 1-7 meter

Khasiat : Selain sebagai bahan baku indiustri kecantikan (parfum, aromaterapi) pengharum teh, atau dekorasi kamar dan rambut pengantin, melati hutan juga berkhasiat sebagai peluntur haid
Tempat tumbuh : Hutan dataran tinggi
Pemupukan : Pupuk kompos, pupuk kandang
Lucy

Menanam Sayur dengan Vertikultur

Vertikultur Pipa Paralon Vertikal
Siapa bilang di lahan sempit tak bisa menanam sayuran? Kaleng bekas cat dan pralon bekas pun bisa dimanfaatkan sebagai pot yang hemat tempat. 
Berawal dari harapan Kasino, seorang pensiunan perusahaan telekomunikasi, yang menginginkan sektor pertanian menjadi primadona di Indonesia. Pasalnya, ia prihatin melihat kondisi pertanian di Indonesia belum bisa dijadikan sebagai lahan untuk meraih pendapatan yang menjanjikan.
Akhirnya, di areal perkebunan seluas 700 m2, Kasino menaman sayuran dengan menggunakan metode vertikultur. Ide ini berawal sejak ia melihat tanaman glodok yang tumbuh ke atas. "Saya pelajari semua dengan otodidak, mencoba terus sampai menemukan sistem yang tepat," tutur Kasino, saat ditemui di kebunnya di kawasan Sidoarjo, Jawa Timur.
Tujuan yang ingin dicapai Kasino dengan metode vertikultur adalah melakukan efisiensi sampai 50-200 kali lipat. "Juga ingin mengubah image petani yang selama ini terkesan kotor, berubah menjadi bersih. Apalagi kini lahan pertanian makin banyak tergusur di wilayah kota." Kasino pun menuangkan inspirasinya ini dengan menanam sayuran tanpa perlu lahan luas.
Maret 2007 Kasino lalu membentuk Industri Pertanian Kasino (IPK) dengan mengawali menanam seledri pakai kaleng bekas cat dan es krim. Kaleng-kaleng ini lalu disusun ke atas. Berbagai tanaman seperti tebu, tomat, sawi, dan setidaknya ada lebih dari 47 tingkat sayuran dicoba ditanam.
Hasilnya? Sungguh mengagumkan. Seledri tumbuh subur, begitu pula tebu, tomat, dan sawi. Bayangkan, seledri yang biasa tumbuh di daerah dingin, di Sidoarjo yang bersuhu panas, tetap bisa tumbuh subur dan besar-besar.

Keberhasilan ini ditunjang nutrisi dan media tanam yang dibuat sendiri. Media tanamnya kompos, sekam bakar, gergaji kayu, abu batu, arang, belerang, bekicot, dan keong emas.
Sebagai penyubur tanamannya, Kasino terilhami dari beberapa hal. Misalnya, belerang dari gunung meletus, bangkai tikus di sawah, atau bekicot yang bisa menyuburkan tanaman. Semuanya dicampurkan dan direndam di air selama 3 hari agar hasilnya bagus. Kemudian, dijadikan media tanam.
Jadi, nutrisi yang dipakai berasal dari campuran unsur nabati, hewani, dan hara yang dicampur aduk. Kasino memang memanfaatkan betul bahan yang ada. Begitu juga dengan pengairan, Kasino menggunakan mainan anak (dakon atau congklak) sebagai wadah pengairan. Dibentuk sedemikian rupa, hingga bisa mengaliri seluruh tanaman merata dari atas ke bawah.
Sayangnya, Kasino menemui kendala soal mendapatkan kaleng cat atau es krim bekas yang dipakainya, karena masih sulit diperoleh dan mahal. Kasino pun lalau mengakali dengan menggunakan pralon yang lebih mudah diperoleh. Secara teknis perlubangan, lagi-lagi Kasino menemui kesulitan.
"Jika metode vertikultur ini sudah berjalan, sebenarnya masyarakat punya peluang bisnis baru, yaitu menjual pralon yang sudah dilubangi. Jadi, yang ingin mencoba teknik ini, tinggal membeli pralonnya," tutur Kasino yang tak pelit membagikan ilmunya ini.
Dalam waktu sebulan, lanjutnya, metode ini bisa dipelajari. Selain lebih efisien, karena hasil yang diperoleh lebih banyak dibandingkan menanam sayuran secara konvensional, panen dari sayurand engan metode vertiluktur juga tak mengenal waktu, bisa 3-4 kali panen.
Kasino membandingkan antara menaman vertikultur secara konvensional. Misalnya menanam tebu di kaleng (10 susun), akan menghasilkan 200 batang. Sementara menanam tebu di tanah 1 m2 hanya akan menghasilkan 4 batang saja. Jauhs ekali, bukan bedanya?
Seberapa banyak tingkat kegagalannya? Biasanya, kata Kasino, masalahnya ada si soal pengairan. Jika pengairan memakai selang, lama-lama bisa berlumut. Jika tak jeli melakukan pengawasan, tanaman pun bisa layu. "Sistem pengairan merupakan jantungnya vertikultur, karena harus merata ke beberapa tempat. Makin sering disiram sebenarnya makin bagus, karena tidak pakai zat kimia."
Penggunaan Pralon
Seperti halnya Kasino di Sidoarjo, pensiunan pegawai negeri asal Nganjuk, Jawa Timur, Pramban Budiharto, juga mencoba menaman sayuran di media pralon. Meski tidak berlatar belakang pertanian, bapak 3 anak lulusan Teknik Geodesi UGM ini mencoba menerapkan sebuah sistem.
"Sistemnya saling terkait, mulai dari pembuatan nutrisi, media tanam, teknik pengairan, dan pola tanam. Faktor air sangat penting dan harus teruji," jelasnya. Kubis adalah sayuran pertama yang ia tanam. Pralon setinggi 2 meter dilubangi dengan jarak dan diameter tertentu. Di lubang itu bibit sayuran ditanam, tentu saja dilengkapi nutrisi yang tepat.
"Jika jarak lubangnya terlalu pendek, misalnya & cm, hasil kubisnya akan kecil-kecil. Kecuali jataknya 20 cm, kubisnya akan tumbuh lebih baik. Tapi soal kualitas, kubis Nganjuk dijamin lebih, keras, hijau, enak, dan manis," ujar Pramban sambil tersenyum.
Selain sistem terpadu yang harus dilakukan berurutan, Pramban juga menjamin tanamannya bebas hama. Hama dapat dimusnahkan dengan pupuk tembakau, mimbo, mahoni, gadung, dan air kapur, yang diolah dan disemprotkan ke tanaman.
Pemberian nutrisi dilakukan melalui proses siram dan sirat (semprot), dengan perbandingan 1 liter nutrisi dicampur 20 liter air. "Prinsipnya, tanaman juga perlu air bersih. Penyiraman dengan menyemprotkan air diperbolehkan."
Yang penting, lanjut Pramban, semuanya harus dilakukan dengan sabar dan telaten. Sistem vertikultur pada dasarnya menciptakan "sawah". Halaman sempit bukanlah masalah lagi. Pralon dipilih karena mudah didapat dan tak perlu khawator soal kualitasnya.
Pramban menyarankan, "Pilih saja pralon yang paling jelek dan murah atau yang TM (tanpa merk). Penggunaan limbah (barang bekas) ini tidak akan berpengaruh pada hasil tanaman, kok," yakinnya
Noverita K. Waldan
Foto: Gandhi Wasono/NOVA

Tren Posting...

Salam Sukses untuk para netter GoelaGoela...

Terimakasih atas kesetiaan para netter GoelaGoela untuk tetap mengakses informasi yang saya update di blog ini. 

Blog ini saya dedikasikan untuk perkembangan ke-ilmuan, dan semua yang saya update ada yang berasal dari tulisan para bloggers hebat yang menurut saya mengandung ilmu yang bermanfaat, terimakasih saya sampaikan pada dedikasi mereka, dengan tidak melupakan sumber tulisan, saya selalu mencantumkan asal-usulnya.

Saya saat ini lagi konsen dengan dunia pertanian, khususnya pemanfaatan lahan di daerah perkotaan, nah beberapa saat kedepan saya mencoba untuk meng-update materi yang berkaitan dengan hal tersebut.

Sekali lagi, dunia ilmu itu tiada matinya... bila kita memelihara ilmu yang diperoleh, maka dia (ilmu itu) akan memelihara kita...

Terimakasih.